Minggu, 29 Oktober 2017

DAFTAR KA KWARNAS GERAKAN PRAMUKA DARI MASA KE MASA

Daftar Ka Kwarnas Gerakan Pramuka Dari Masa ke Masa

No NAMA TAHUN
1. Sri Sultan Hamengkubuwono IX 1961–1974
2. Letjen. M. Sarbini 1974–1978
3. Letjen. Mashudi 1978–1993
4. Letjen. Himawan Soetanto 1993–1998
5. Letjen. Rivai Harahap 1998–2003
6. Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH 2003–2013
7. Adhyaksa Dault 2013–2018




Kami adalah Gerai pramuka yang melayani jual beli perlengkapan pramuka terlengkap dan berkualitas,
Dan bisa kirim ke seluruh Indonesia.
contact person via HP/SMS/WA di No 087773777077

DAFTAR PENGURUS KWARTIR NASIONAL TERBARU

Daftar Pengurus Gerakan Pramuka Masa Bakti tahun 2013 - 2018


1. Ketua                                                                     : Dr. H. Adhyaksa Dault, SH. M.Si
2. Sekretaris Jenderal                                                    : Drs. Yudi Suyoto, MM
3. Bendahara                                                    : Bayu Priawan Djokosoetono
4. waka Bidang Bina Anggota Muda                  : H. Suriyadi MS, S.Sos, M.Si
5. Waka Bidang Bina Anggota Dewasa        : Prof. Dr. Lidya Freyani Hawadi, Psi
6. Waka Bidang Perencanaan Pengembagan dan Kerjasama    : Marbawi, S.Sos, M.Si
7. Waka Bidang Organisasi dan Hukum                  : Dr. P.A. Kodrat Pramudho, SKM, M.Kes
8. Waka Bidang Badan Usaha dan Aset Milik Gerakan Pramuka : H. Rafli Effendy 
9. Waka Bidang Hubungan Luar Negeri                      : Drs. Achmad Rusdi
10. Waka Bidang Komunikasi dan Informasi               : Lusia Adinda Lebu Raya, S.Pd, MM
11. Waka Bidang Pengabdian Masyarakat dan Siaga Bencana    : Brigjen TNI M. Herindra 
12. Waka Bidang Lingkungan Hidup                               : Drs. H. Abdul Shobur, SH, MM


Kami adalah Gerai pramuka yang melayani jual beli perlengkapan pramuka terlengkap dan berkualitas,
Dan bisa kirim ke seluruh Indonesia.
contact person via HP/SMS/WA di No 087773777077

Selasa, 17 Oktober 2017

Ketua Kwartir Nasional Ketujuh

Dr. H. Adhyaksa Dault, S.H., M.Si. pernah menjabat Menteri Negara Pemuda dan Olahraga dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Lahir pada 7 Juni 1963 (54 tahun), di Kabupaten Donggala, Indonesia.

Pada tanggal 27 Agustus 2009, Adhyaksa Dault, yang waktu itu calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera yang dipastikan terpilih dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah, mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum untuk mengajukan pengunduran diri sebagai calon legislator.

Setelah selesai menjalankan tugas sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga Kabnet Indonesia bersatu Jilid 1 periode 2004 - 2009, Adhyaksa Dault mengabdikan dirinya kembali kepada dunia pendidikan dengan kembali mengajar sebagai Dosen Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai-Universitas Diponegoro dan menjadi Kandidat Guru Besar pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Diponegoro . Selain mengajar, tugas yang diemban Adhyaksa Dault menjadi Komisaris Independen PT.BRI.Tbk, sejak tahun 2010 sampai sekarang. Di sela-sela kesibukannya, Adhyaksa Dault juga beraktivitas sebagai Ketua Umum VANAPRASTHA, yaitu suatu wadah dari para Penggiat Alam Terbuka dan Aktivis Lingkungan yang berdiri sejak 1976. Dan salah satu program yang merupakan ide kreatif seorang Adhyaksa Dault sebagai penggiat alam terbuka dan Aktivis lingkungan dimana sampai sekarang program tersebut masih berlangsung adalah PIP3D ( Promosi Indonesia Pada - Pada Puncak Dunia). Program ini memadukan berbagai macam unsur kegiatan seperti Ekspedisi Pendakian, Touring Sepeda, Talkshow dan Dialog Interaktif sambil mempromosikan pariwisata Indonesia di manca negara. Pada tahun 2011 kemarin Adhyaksa Dault beserta team yang dipimpinnya berhasil melakukan Ekspedisi Pendakian di Mount Blanc - Prancis, touring sepeda mengelilingi sebagian Eropa Barat serta melakukan Talk show dan dialog interaktif di 2 Negara Eropa, Prancis dan Belanda


Pada 5 Desember 2013, Adhyaksa Dault memenangi pemilihan Ketua Kwartir Nasional Pramuka periode 2013-2018 di Musyawarah Nasional (MUNAS) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menggantikan mendiang Azrul Azwar. Adhyaksa memperoleh 17 suara dari dari total 34 suara yang diperebutkan, menang tipis dari Wakil Ketua Diklat Kwarnas serta Dosen Lemhanas, Jana T. Anggadireja. Sementara calon lainnya Mantan Wakapolri, Nanan Soekarna, memperoleh 1 suara dan Mantan Sekjen Kemenhan yang juga Waka Abdimas Kwarnas, Marsdya Eris Herhanto memperoleh 1 suara. Dua calon lainnya Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, dan Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf mengundurkan diri dari pencalonan.





Ketua Kwartir Nasional Keenam

Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH (lahir di Kutacane, Aceh, 6 Juni 1945 – meninggal di Jakarta, 1 April 2014 pada umur 68 tahun) adalah seorang dokter dan ahli kesehatan masyarakat asal Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia dan Ketua Stikes Binawan Jakarta.

 Dilingkungan pemerintahan, Azrul pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, sedangkan di almamaternya, Universitas Indonesia, Azrul adalah Guru Besar Ilmu Kedokteran Komunitas dan pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Ia juga pernah menjabat sebagai Komisaris PT Kimia Farma, Tbk, serta Komisaris Utama PT Indofarma, Tbk.



Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH terpilih menjadi ketua Kwartir Nasional yang keenam dalam Munas VII yang berlangsung pada tanggal 15-19 Desember 2003 di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada Munas VIII (15-18 November 2008 di Cibubur, Jakarta), beliau terpilih kembali menduduki dalam masa bakti yang kedua kalinya. Dimasa kepemimpinanya Pramuka pernah dilibatkan untuk mensukseskan Kegiatan Internasional di Manado yaitu World Ocean Conference (WOC 2009). Saat itu para pramuka satuan karya bahari dilayarkan dari Surabay - Balikpapan - Palu - Bitung dengan acara Ekspedisi Kelautan Pramuka Indonesia.

Ketua Kwartir Nasional Kelima

A. Rivai Harahap mengecap pendidikan dasar di kota kelahirannya Pematang Siantar, Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda Sumatera Utara. Kemudian melanjut ke Indonesia Nederlandsche School di Kayutanam, Sumatera Barat dan Tyu Gakko di Pematang Siantar, Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda Sumatera Utara. Dia lulus SMA LPPU di Banda Pejuang dari Aceh.

Pendidikan Militernya diawali di Medan Seinen Rensyeiso di Medan 1943, berlanjut ke Zyokyukanri Gakko (Sekolah Pegawai Negeri) di Batusangkar, Sumatera Barat (1944) dan Kursus ”B” Angkatan II di Pusat Infanteri di Bandung, Jawa Barat (1959-1960), serta Seskoad-II/IV di Bandung, Jawa Barat (1965)

Abdul Rivai Harahap mengawali karier militer sebagai Pelatih TKR, Agustus 1945 - 30 Desember 1945. Atasan langsungnya ketika itu adalah Ahmad Tahir. Kemudian, setelah dia mengikuti Latihan Opsir TKR, Divisi X dengan pangkat Serma Kadet, 1 Januari 1946 – 30 Juni 1946 (atasan H. Sitompul), dia diangkat menjadi Dan Seksi Divisi X berpangkat Letda Inf (1 Juli 1946 – 30 Desember 1947) dengan atasan langsung Ricardo Siahaan.

Lalu bertugas sebagai Dan Ki, Resimen I berpangkat Lettu Inf (31 Desember 1947 – 19 Desember 1948). Kemudian menjadi Wadan Raum I Sekter IV Gerilya (20 Desember 1948 -29 Desember 1949) dan Danton Yonif 104 Territorial I (30 Desember 1949 – 31 Oktober 1951) dengan atasan langsung Maraden Panggabean.

Lalu menjabat Dan Ki Yonif 113 Territorial I (1 November 1951 – 10 Agustus 1953) dengan atasan langsung B. Sinaga; Dan Ki Staf Yonif F Resimen I (11 Agustus 1953 – 31 Desember 1953, atasan langsung Bawadi. Kemudian naik menjadi Pa Seksi Resimen I Territorial I/BB (1 Januari 1954 – 31 Desember 1958) dan naik pangkat dari Lettu Inf menjadi Kapten Inf, atasan langsungnya R. Priyatna.

Setelah itu dia dipercaya menjabat Asisten Ops Kodam I/Iskandar Muda dengan pangkat Mayor Inf (1 Januari 1959 -16 Oktober 1959), atasan langsungnya Syamaun Gaharu. Lalu dia mengikuti Kursus ”B” Pus If (17 Oktober 1959 -30 Oktober 1960, yang dipimpin Soemitro. Selepas itu, dia menjabat Wa As Ops Koanda Sum (1 November 1960 – 12 November 1961) di bawah pimpinan Soeprapto. Kemudian menjabat Pgs As Ops Koanda Sum (13 November 1961 – 7 Oktober 1962). Lalu diangkat secara definitif menjabat As Ops Koanda Sum (8 Oktober 1962 – 12 April 1965) dipimpin RA Kosasih. Pangkatnya pun naik menjadi Letkol Inf.

Setelah mengikuti pendidikan Seskoad (13 April 1965 – 30 Desember 1965) yang dipimpin Soedirman, dia diposisikan sebagai Pamen DBP Koanda Sum (1 Januari 1966 – 5 September 1966) dengan atasan langsung Mokoginta, sebelum diangkat menjabat Danrem 012 Teuku Umar, Kodam I Iskandar Muda (6 September 1966 – 19 Februari 1968 di bawah pimpinan Pangdam I/IM Ishak Juarsa.

Pangkatnya naik menjadi Kolonel Inf saat dipercaya menjabat Danrem 011 Lilawangsa, Kodam I Iskandar Muda (20 Februari 1968 – 14 Oktober 1970). Saat itu, T. Hamzah menjabat Pangdam I/IM. Dua tahun berikutnya, dia diangkat menjabat Kepala Staf Kodam I Iskandar Muda (15 Oktober 1970 – 7 Oktober 1973) di bawah pimpinan Pangdam A. Kunaefi.

Pangkatnya naik dari melati (Pamen) menjadi bintang (Pati, jenderal bintang satu: Brigjen) saat dipercaya menjabat Panglima Kodam I Iskandar Muda (8 Oktober 1973 – 14 Desember 1977). Pangkatnya naik lagi menjadi Mayjen dan Letjen (bintang dua dan bintang tiga) saat menjabat Aster SUAD (15 Desember 1977 – 11 Mei 1983 (atasannya Makmun Murad, Widodo, dan Poniman) dan Aster Hankam/ABRI (1982 – 11 Mei 1983) saat Jenderal TNI M. Jusuf menjabat Panglima ABRI/Menhankam.

Dalam karier militernya, Rivai mengabdikan diri dalam beberapa penugasan operasi. Dia aktif berjuang selama Perang Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966) Kemerdekaan RI mulai tahun 1945, Clash I dan II, serta turut bergerilya pada tahun 1949 di Sektor IV daerah Tapanuli Tengah di bawah pimpinan Jenderal TNI (Purn) Maraden Panggabean. Dia juga bertugas dalam Operasi penumpasan Republik Mantan Sersan Militer Inggris Maluku Selatan (RMS) di Mantan Sersan Militer Inggris Maluku, operasi penumpasan DI/TII di Pejuang dari Aceh, dan Operasi Sapta Marga di Sumatera Utara.

Saat menjabat Pangdam Iskandar Muda, dia juga bertugas sebagai Anggota MPR-RI Fraksi ABRI (1977-1988). Selain itu, dia aktif sebagai Andalan Nasional Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1979-2003). Dia menjabat Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka pada 1983-1998 dan menjabat Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka pada 1998-2003. Juga aktif sebagai Anggota Dewan Siaran Nasional, 1989-1991 dan 1991-1993, serta Anggota Tim Penasihat Presiden RI Urusan Aceh.


Letnan Jenderal TNI (Purn.) Rivai Harahap (lahir di Pematang Siantar, 21 April 1928; umur 89 tahun) merupakan seorang tentara asal Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia.

Letjen. Rivai Harahap terpilih menjadi Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka yang kelima dalam Munas VI yang berlangsung pada tanggal 31 Oktober - 8 November 1998 di Samarinda, Kalimantan Timur. Beliau menjabat hanya selama satu masa bakti.

Ketua Kwartir Nasional Keempat

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Raden Himawan Soetanto (lahir di Magetan, Jawa Timur, 14 September 1929 – meninggal di Jakarta, 20 Oktober 2010 pada umur 81 tahun) adalah seorang Purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat dan juga mantan Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat. Ia anak seorang pejuang, Mayjen TNI Mohamad Mangoendiprodjo, pimpinan TKR di Jawa Timur dan tokoh peristiwa 10 November 1945. jaman Jepang Daidancho Sidoarjo, Kepala Komandemen Jawa Timur, Kepala Staf Kementerian Pertahanan dan menjadi Penasehat Panglima Besar Sudirman. Sejak umur 16 tahun, Ia sudah bergabung dalam pasukan Sawunggaling untuk bertempur bersama ayahnya di Palagan Surabaya. Ia mulai menembakkan senjata untuk pertama kalinya, saat melawan tentara Inggris pada 28 Oktober 1945 di Wonokromo, Surabaya. Himawan kemudian menjadi kadet militer akademi di Yogjakarta dan turut bergabung dengan pasukan Siliwangi saat ber-long march kembali ke Jawa Barat.

Pada Tahun 1946-1948, 1954, 1956, 1966, Berkarier di TNI mulai dari bawah dengan pangkat Letnan Muda (sekarang Letnan Dua) mengikuti pelatihan dan pendidikan di dalam negeri. Juli – oktober 1946, HS sebagai Taruna Militer Akademi (MA) Jogya, mengikuti penugasan operasi menghadapi Belanda di front Subang atau Bandung Utara

Di tengah kekalutan, Mayor Himawan Soetanto justru mengambil inisiatif untuk memimpin pasukan Batalyon 330/Kujang-1, menyerbu ke sarang para pemberontak PRRI pada tanggal 6 April 1964. Pasukan Batalyon 330/Kujang-1, yang sebenarnya hanya seper-lima dari seluruh kekuatan pasukan PRRI di Polewali, akhirnya berhasil membunuh Letkol Andi Sele dan menghancurkan salah satu kekuatan utama pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Karena keberaniannya, Panglima TNI Angkatan Darat (PANGAD), Letjen TNI Ahmad Yani memberikan kenaikan pangkat khusus kepada Himawan Soetanto menjadi Letnan Kolonel dan juga Bintang Jasa Nararya pada HUT Kodam III/Siliwangi ke-19 di Lapangan Tegalega, 20 Mei 1965. Pada hari itu para tokoh-tokoh Siliwangi yang tergabung dalam Operasi yang bernama "Operasi Kilat", dan telah berhasil menumpas pemberontakan Kahar Muzakar juga mendapatkan penghargaan dari PANGAD. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Kolonel Solichin GP, Mayor Jogi S Memet, Letkol Djajadi, Letda Umar Sumarna, dan yang cukup terkenal namanya adalah Koptu Sadeli, sang penembak Kahar Muzakar.



Letjen. Himawan Sutanto terpilih menjadi Ketua Kwarnas yang keempat dalam Musyawarah Nasional (Munas) V Gerakan Pramuka pada tanggal 2-8 November 1993 di Jayapura, Papua. Beliau menjabat hanya selama satu periode.

Ketua Kwartir Nasional Ketiga

Lahir dari orang tua yang merupakan wiraswastawan, Mashudi adalah anak keenam dari 11 bersaudara. Dari pernikahannya dengan Yetty Rochyati, ia memperoleh dua orang anak.



Ia lalu menjadi Ketua Majelis Pembimbing Pramuka Jawa Barat sejak tahun 1961. Pada tahun 1974, setelah melepas jabatan sebagai Wakil Ketua MPRS (1967-1972), ia menjadi Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat. Pada tahun yang sama, Mashudi dipilih menjadi Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka.

Di tengah masa baktinya sebagai Wakil Ketua Kwarnas, Mashudi ditunjuk menjadi Pjs Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka menggantikan Sarbini hingga tahun 1978. Dalam Munas Gerakan Pramuka di Bukit Tinggi, Sumatera Barat pada tahun 1978, Mashudi terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka hingga tahun 1993.